Scroll untuk baca artikel
Foresthree and Coffee Official
Example floating
Example floating
BusinessinAsia
BusinessEditorialFigure

PDB Indonesia di Q1/2022 diperkirakan Tumbuh 4,8-5,1%”

115
×

PDB Indonesia di Q1/2022 diperkirakan Tumbuh 4,8-5,1%”

Share this article
BusinessinAsia

Analisis ekonomi

“Pelonggaran kebijakan pembatasan sosial dorong PDB Indonesia di Q1/2022 diperkirakan tumbuh berkisar 4,8-5,1%”

MENTERI KOMINFO

Hampir pasti ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal pertama 2022 ini berpeluang tumbuh signifikan pada kisaran 4,8-5,1% secara tahunan (year on year atau yoy). Adalah pelonggaran kebijakan pembatasan sosial yang menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan.

Maklum, dengan dilonggarkannya kebijakan tersebut, sebagai dampak program vaksinasi masif yang mencapai 75% dari target populasi penduduk yang harus divaksin sehingga menjadikan Indonesia mendekati level herd immunity (kekebalan kelompok) sesuai kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan bersiap diri menuju fase endemi, telah mendorong mobilitas orang dan barang secara masif.

Dibukanya berbagai jalur dan moda transportasi semakin meningkatkan permintaan masyarakat terhadap berbagai jenis barang dan jasa. Meskipun sempat dibayangi oleh penyebaran varian virus baru Omicron pada awal tahun ini, namun kesigapan pemerintah telah mampu mengatasi efek negatif lebih lanjut dari sebaran Omicron tersebut.

Sistem dan manajemen kesehatan nasional juga semakin baik yang membuat kepercayaan diri masyarakat semakin meningkat untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomi dan sosial. Persentase pola kerja di kantor (work from office/WFO) pun ditingkatkan dan sebaliknya pola kerja di rumah (work from home/WFH) ditrurunkan. Semua itu pada gilirannya mampu mendongkrak sisi permintaan masyarakat secara signifikan. Itulah yang mendasari pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal pertama tahun ini berkisar 4,8-5,1% yoy.

Bahkan pola yang sama akan terjadi pula di kuartal kedua tahun ini, lebih-lebih dengan adanya kebijakan cuti bersama dan aktivitas selama bulan Ramadan disertai fenomena mudik lebaran yang mendorong permintaan masyarakat melonjak sangat signifikan dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir sebelumnya. Permintaan dadakan (pent-up demands) pun terdorong meningkat tajam setelah dua tahun lebih hasrat konsumsi masyarakat tertahan karena pandemi.

Disposal income masyarakat yang tinggi mendorong perilaku konsumtif ketika masyarakat percaya diri untuk keluar rumah dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk aktivitas konsumsi.

Pada peride kuartal pertama lalu pun kegiatan di sisi pemerintahan juga berjalan relatif normal yang memacu konsumsi pemerintah juga meningkat. Kegiatan investasi langsung oleh pelaku usaha juga meningkat, baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). Para investor tetap yakin bahwa prospek ekonomi Indonesia ke depannya akan bagus sekali karena ditopang oleh manajemen fiskal, moneter dan sektor keuangan yang solid, harmonis dan kolaboratif.

Kegiatan ekspor dan impor pun masih berjalan baik kendati dihadapkan pada ketegangan politik terkait agresi militer Rusia ke Ukraina sejak 14 Februari lalu. Mobilitas arus barang dan jasa akan sedikit terganggu karena disrupsi berbagai moda transportasi laut dan udara setelah Amerika Serikat dan sekutu Barat-nya memberlakukan sanksi ekonomi kepada Rusia. Dalam hal ini Indonesia tetap mampu memupuk surplus neraca perdagangan selama lebih dari setahun terakhir.

Kegiatan ekspor komoditas tetap berjalan normal di tengah kenaikan harga di pasar dunia lantaran permintaan eksternal yang juga tetap solid mendukung kinerja ekspor.

Pada saat yang sama, aktivitas impor pun berjalan normal seiring dengan meningkatnya permintaan domestik baik berupa barang modal maupun bahan baku dan barang setengah jadi untuk mendukung manufaktur. Purcashing Manager Index (PMI) pun berada di zona ekspansi, tepatnya di atas level 50. Indeks tendensi bisnis juga meningkat disertai kenaikan indeks kepercayaan konsumen ritel dan indeks penjualan ritel.

Untuk keseluruhan tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap akan positif pada rentang 4,75-5,05% meskipun dibayang-bayangi potensi kenaikan inflasi dan suku bunga acuan yang tetap terukur dan akomodatif untuk bisa menopang perekonomian nasional.*

(Ryan Kiryanto, Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan)

BusinessinAsia
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1. DPMPTSP Kota Tangsel Raih Penghargaan
Pelayanan Prima dari Kemenpan RB.

2. Jebakan Crazy
Rich Pikat Pelanggan Ikut Trading Binary
Option.

3. Eksportir Indonesia
Perluas Jejaring
dengan Buyers di AS