Scroll untuk baca artikel
Foresthree and Coffee Official
Example floating
Example floating
BusinessinAsia
BeritaFigure

Jakarta Smart City, Inovasi Untuk Ciptakan Ekosistem Kota Cerdas yang Inklusif

154
×

Jakarta Smart City, Inovasi Untuk Ciptakan Ekosistem Kota Cerdas yang Inklusif

Share this article
BusinessinAsia

Jakarta sebagai kota global dengan jumlah penduduk terbesar di dunia menghadirkan inovasi untuk menciptakan ekosistem kota cerdas yang inklusif dan terintegrasi dengan teknologi. Melalui Jakarta Smart City (JSC), Pemerintah Provinsi Jakarta berupaya menjadikan Jakarta sebagai kota cerdas berskala global dengan mengoptimalisasi teknologi informasi untuk pelayanan publik bagi masyarakat Jakarta.

Kepala Unit Pengelola Badan Layanan Umum Daerah (UP BLUD) Jakarta Smart City Yudhistira Nugraha menjelaskan, JSC yang digagas Pemprov Jakarta sejak 2015 berfungsi untuk mempercepat dan mengefektifkan pelayanan publik, serta menghadirkan pemerintah dalam memberikan respons cepat kepada masyarakat. Dalam pengembangan ekosistem kota cerdas, langkah pertama yang dilakukan adalah membangun kepercayaan publik bahwa pemerintah bekerja.

MENTERI KOMINFO

Salah satu inisiatif dan inovasi smart city di Jakarta adalah membangun Sistem Cepat Respons Masyarakat (CRM). “Sistem Cepat Respons Masyarakat merupakan sebuah platform komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Melalui platform ini, masyarakat bisa menyampaikan berbagai aduan kepada pemerintah,” jelas Yudhistira saat wawancara dengan Business in Asia di Jakarta pada Senin (9/10/2023).

Sistem CRM mengintegrasikan seluruh kanal pengaduan resmi Pemprov Jakarta. Ada 13 kanal aduan resmi yang bisa digunakan masyarakat, mulai dari aplikasi JAKI, media sosial, pesan elektronik, hingga datang langsung ke kantor kelurahan, kecamatan, wali kota, hingga pendopo balai kota. Doktor Cyber Security Oxford University ini mengungkapkan, melalui sistem CRM, semua aduan yang masuk akan ditindaklanjuti secara lebih responsif, efisien, dan transparan. Tiap aduan akan ada kode laporan/tracking yang bisa dimonitor masyarakat melalui aplikasi JAKI atau laman crm.jakarta.go.id dengan memasukkan kode laporan.

“Sistem Cepat Respons Masyarakat dikembangkan untuk membangun kepercayaan publik kepada pemerintah bahwa setiap aduan masyarakat akan ditindaklanjuti dan setiap aduan bisa dimonitor tindak lanjutnya,” ungkap Yudhistira yang bergabung dengan Jakarta Smart City sejak September 2019.

Lebih lanjut Yudhistira memaparkan, di dalam Sistem CRM ada dua platform, yaitu kanal aduan yang digunakan masyarakat serta penerima aduan yang digunakan Perangkat Daerah (PD) dan Unit Kerja Perangkat Daerah (UKPD) untuk menindaklanjuti berbagai bentuk aduan yang disampaikan masyarakat. “Platform yang digunakan oleh perangkat daerah merupakan mekanisme kolaborasi koordinasi antarberbagai PD/ UKPD. Masyarakat bisa melihat koordinasi antara PD/UKPD dalam menyelesaikan berbagai masalah,” terang Yudhistira yang juga aktif sebagai dosen profesional di Telkom University.

Dalam menanggapi setiap aduan, menurut Yudhistira, ada Key Performance Indicator (KPI) yang harus dijalankan oleh PD/UKPD, misalnya maksimal waktu koordinasi dan tindak lanjut dari aduan. “Jadi setiap laporan yang datang dari masyarakat harus ditindaklanjuti. Jika tidak, akan berdampak pada pendapatan atau tunjangan kinerja dari masingmasing PD/UKPD,” imbuhnya. Hal ini karena dalam Sistem CRM menerapkan merit based system, artinya ada penghargaan/insentif jika laporan ditindaklanjuti dengan baik, atau pemotongan kalau laporan itu tidak ditindaklanjuti oleh petugas.

Menurut Yudhistira, sistem ini sebagai bentuk transparansi serta akuntabilitas, karena setiap laporan mempunyai nilai dan tidak diabaikan. Setiap aduan dari masyarakat akan ditindaklanjuti oleh Pemprov Jakarta. Mereka juga bisa memantau proses tindak lanjut aduan, sebab mendapat notifikasi dari sistem CRM.

Berdasarkan pantauan di web crm.jakarta.go.id pada 12 Oktober 2023, sebanyak 1.053.406 laporan telah selesai ditindaklanjuti. Data tersebut dihitung sejak 2017. Percepatan Transformasi Digital Membangun smart city bukan hanya bicara tentang kota plus teknologi, tapi pada dasarnya membangun sebuah ekosistem. “Kalau bicara smart city is not about technology but is about people, jadi kita selalu meletakkan masyarakat sebagai fokus utama,” papar Yudhistira.

Salah satu prinsip smart city adalah pergeseran (shifting) dari government centric menjadi user centric. Government centric fokus kepada apa yang dimiliki pemerintah, misalnya pelayanan publik buka dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.  “Sementara user centric fokus pada kebutuhan masyarakat, artinya bagaimana kita menyediakan layanan publik yang buka 24 jam. Salah satunya melalui Sistem CRM yang tidak mengenal waktu, terutama pengaduan publik melalui aplikasi dan sosial media yang bisa dikirim kapan saja,” tutur Yudhistira

Selanjutnya, understanding city, yaitu kota yang memiliki kemampuan untuk memahami dan menganalisis data yang dikumpulkan (data analytic). Sementara, actionable city adalah kota yang mampu menggunakan hasil dari data analytic untuk mengambil kebijakan dan intervensi berbasis data (data driven policy). “Misalkan ada warga melaporkan aduan itu bagian dari sensing city. Data yang dikirim warga akan masuk skema understanding city dan dikirimkan ke PD/UKPD terkait. Setelah itu masuk ke actionable city dengan mengirim petugas terkait untuk menyelesaikan masalah tersebut,” papar Yudhistira.

Menurut Yudhistira, yang tak kalah penting dari smart city adalah empowering people, yaitu pengembangan talenta digital melalui peningkatan indeks literasi digital dan partisipasi digital. Indeks literasi digital adalah bagaimana meningkatkan kemampuan masyarakat tidak hanya sebagai pengguna teknologi, tapi juga menggunakan teknologi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Sementara indeks partisipasi digital, masyarakat hadir sebagai bagian dari kota.

Contoh partisipasi digital, masyarakat bisa melaporkan berbagai masalah menggunakan sistem CRM. Untuk membangun talenta digital, Pemprov DKI Jakarta membuat berbagai program literasi digital agar anak-anak muda di Jakarta lahir sebagai problem solver, memiliki creative thinking, serta tidak takut menghadapi masalah dan berupaya menyelesaikan masalah dengan teknologi, sehingga muncul model-model bisnis baru. “Kita juga membangun ekosistem startup, karena statup ini ke depannya menjadi sebuah engine dalam pelayanan publik. Startup ini merupakan salah satu bentuk partisipasi digital,” pungkas Yudhistira.

BusinessinAsia
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1. DPMPTSP Kota Tangsel Raih Penghargaan
Pelayanan Prima dari Kemenpan RB.

2. Jebakan Crazy
Rich Pikat Pelanggan Ikut Trading Binary
Option.

3. Eksportir Indonesia
Perluas Jejaring
dengan Buyers di AS